Tatapan mataku terhenti hanya untuk satu photo itu saja.

Tidak ada reaksi dalam batinku selama sepersekian detik, namun otakku mulai menalar ke waktu lampau beberapa tahun lalu. Tiba tiba saja nafasku sedikit tercekat, tubuhku bergetar, dan hatiku berpendar merasakan kehidupan. Indah. Bahagia.

“Aku adalah milikmu.”

“Kau tahu betapa aku mencintaimu.”

Tatapan matanya menyentuhku dengan kasih. Kubiarkan jemarinya menggenggam jemariku. Dan bibirnya menyentuh pipiku. Hangat.

“Dasar kamu anak seorang pencuri!”

“Maksudmu?” aku terhenyak atas pernyataan dirinya.

“Ayah dan ibumu pasti telah mencuri bintang bintang di langit untuk ditempatkan di dalam matamu. Aku jadi semakin terbius melihatnya.”

Jelas sebuah rayuan. Tetapi aku tetap terhanyut dalam kata-katanya. Wajahnya kembali menari nari dalam ingatanku. Tuhan, aku suka sekali rahang keras dan ekspresi wajah yang ditimbulkannya. Aku suka mata itu. Bukan, aku hanya selalu suka cara matanya menatap diriku. Seakan cintanya padaku sudah begitu meluap dan tak tahu harus berbuat apa untuk menahannya tertumpah.

Aku kembali berbahagia. Hangat rasanya tubuh ini.

Lalu tiba-tiba semua itu berganti. Terasa berdenyut. Sakit. Aku merasakan sedikit nyeri pada dada kiriku. Kurasakan jantungku berdegup kencang.

Kecewa. Air mata. Rindu.

Suara pukulan pada dinding kaca ditelinga kananku membuatku spontan terduduk lemas di lantai. Jika pukulan itu mengenaiku tadi sudah pasti remuk tulang-tulang pipiku. Dinding kaca balkoni apartemen ini bergetar nyaris retak. Tapi yang kulihat justru tangan kanannya lah yang bergetar hebat dan berdarah.

Aku ketakutan dan mengeluarkan air mata tanpa suara dan ekpresi. Dia berjongkok mendekatiku dengan semua keringat dingin diwajahnya dan tatapan liar yang rasanya hendak menguliti diriku. Aku pasrah. Mungkin ini memang sudah waktuku.

“Kau tahu betapa aku mencintaimu.”

Dia berbisik begitu dekat dengan telingaku. Lalu dia menempelkan pipinya ke pipiku.

“Kalau kamu ingin kembali padanya, kamu tahu harus apa kan.. Kita sudah pernah membicarakan hal ini..”

Aku menggeleng dan menjerit. Aku tidak bisa. Hanya dialah pria penguasa hatiku. Hanya pria di depanku ini yang kucinta. Tapi aku tetap bukanlah miliknya.

“Kalimat itu harus datang darimu. Ayo katakan, brengsek!”

Kali ini didekatkannya bibirnya ditelingaku dan meneriakkan kalimat yang sama berkali-kali. Sampai tubuhku bergetar. Otakku terasa panas dan terbakar.

“…Pergilah… pergilah…”

Suaraku tenggelam dan sia sia kuungkapkan kata-kata itu.

“Apa…? Aku tak bisa mendengarmu…” ucapannya datar seakan-akan dia telah mengerti apa yang telah terucap dariku.

Kucoba bernafas. Dalam. Lebih dalam lagi. Tapi tubuhnya telah memelukku dengan sangat erat dan membuatku sulit bernafas. Kurasakan basah dipipiku, dan kusadari itu bukan air mataku.

“Pergilah dari kehidupanku.”

Aku berhasil.

Dia mengangkat kepalanya dan perlahan sekali bergerak mundur menjauhiku. Matanya kini tak lagi mengenaliku. Dia melihatku dengan asing dan air matanya mengering begitu saja.

Aku tidak sadar apa yang selanjutnya terjadi. Yang aku tahu dia tidak ada lagi dikehidupanku. Sampai sekarang.

Kosong. Kini aku merasakan kekosongan dalam hatiku.

Aku masih memegang satu photo itu. Hanya dengan melihat  itu saja hampir semua perasaan kembali bergejolak di hati ini sekarang. Photo ini diambil 6 tahun yang lalu. Saat kami masih memadu kasih. Penuh cinta dan pengkhianatan.

Aku terpekur. Bahkan tidak ada diri kami berdua di photo itu. Padahal ini satu satunya gambar yang akan mengingatkan aku akan dirinya. Tampaknya Tuhan pun tidak mengizinkan aku lagi untuk sekedar melihat photo pria yang sangat kukasihi itu.

Aku teringat, hari itu adalah suatu sore yang indah di Dubai Creek. Photo itu diambil saat kami menaiki Abra, sebuah perahu tradisional yang membawa kami melintasi keindahan sungai dan beribu ribu burung yang mengawali cinta kami.

Namun kini lihatlah aku. Sendiri. Hanya sendiri. Tanpa siapa-siapa. Tanpa Cinta.