United Arab Emirates.
Dubai International Airport.
Considered as one of the world’s best transit airport.
Wow! Disinilah aku sekarang.
Turun dari pesawat yang sebagian besar membawa penumpang yang menjadi TKI.
Gurun. Pasir. Debu. Semuanya tampak berwarna putih, abu dan coklat.
Gedung kotak-kotak. Jalan. Awan.
Bahkan terik matahari bisa kulihat, atau mungkin hanya kubayangkan, berwarna kuning matang.
Tapi, kenapa aku menggigil?
Oh, aku lupa. Ini bulan Februari. Masih musim dingin. Katanya suhunya bisa sampai 5 derajat. Cukup dingin buat makhluk yang selama 26 tahun hidupnya tinggal di daerah khatulistiwa.
Apalagi sekarang baru jam 6 pagi. Mama benar. Sebaiknya jaket dan syal yang kupakai harus lebih tebal.
Menyesal aku tidak percaya kalau di gurun pasir juga ada musim dingin. Tanpa salju tentunya.
Ugh, berat. Berat!
Salah perhitungan lagi! Pergelangan tangan kananku sampai terkilir.
Tas tangan ini mungkin sama beratnya dengan koper yang masuk kabin pesawat. Maklum, mau irit biaya excess luggage!
Ternyata jadi menderita sendiri.
Berapa ya aku harus bayar tips orang ini? Sepertinya bukan orang lokal. Tidak, pasti bukan. Tololnya aku! Katanya orang lokal tidak bekerja selain buat pemerintah. Mereka semua sudah cukup kaya untuk bertahan hidup puluhan turunan di negeri kaya minyak ini. Indian mungkin.
Duh. Aku belum punya Dirhams.
Koin-koin yang diberikan si Agus ini, temenku yang sempet bekerja di Dubai, katanya senilai 9 dirhams. Kalau diperhatikan mirip 900 perak. Idiih. Cukupkah untuk bayar jasa karena membantu mendorong dua koper super besar dari lantai atas ke lobby? Toh, pakai trolley. Dan tidak mungkin koin ini senilai 900 perak.
Oh, dia terima kok. Alhamdulillah, dolarku tidak keluar dompet.
Sekarang aku harus apa?
Visaku photo copy-an. Di print dari e-mail lagi. Mana sudah terlipat-lipat kumal seperti bungkus gorengan tempe. Bisa-bisa terperangkap di antara orang-orang yang melirik nafsu padaku sampai besok.
Aku hanya bisa melirik ke kiri dan ke kanan. Gosh, airport ini sangatlah mewah, juga luas. Semua manusia disini entah darimana asalnya. Beragam warna kulit, rambut, dan pakaian membuatku merasa teramat asing dilingkungan ini. Dengan rasa gugup dan lelah, kusandarkan tubuhku didinding, dan mulai kuamati lagi sekelilingku. Banyak lukisan-lukisan indah terpajang hampir disemua sudut lantai ini. Aku tergerak untuk melihat salah satunya tepat disamping kiriku. Lukisan yang tingginya begitu menjulang dan megah, begitu indah dan menawan. Aku tertegun cukup lama ketika mengamatinya, sampai kudengar suara seseorang memanggilku dari jauh.
Dan aku pun menoleh kearahnya.
Tuhan!
Diakah?
Ya, itu dia! Dia mendekat kemari. Ah, aku kenali senyum nakal itu.
Sama siapa? Mungkin sama supir hotel. Wah, arab ganteng!
Tapi, sungguh diakah?
Kenapa hanya menjabat tanganku dan tersenyum?
Kenapa tidak memeluk dan menciumku?
Asingkah kini perasaan kita? Tidak mungkin! Baru dua tahun sejak kita terakhir bertemu.
Hei, hei…
Jangan kaku begini. Please.
Kamu suamiku kan?
Ternyata putih sekali ya. Dan kurus.

*

Andre terbangun dari tidur nyenyaknya lalu menguap lebar. Sedikit demi sedikit ditepiskan semua kabut yang membayangi matanya, lalu terlihat jelas figur istrinya yang tampak cantik dengan kaos spandex biru dan jeans. Ia tengah melamun. Terpaku dalam pikirannya sendiri dan menatap jauh kearah luar melalui jendela.

“Melamun lagi?”

Jasmine tersenyum tanpa menoleh kearah Andre, suaminya. Matanya tetap menatap keluar jendela lantai lima apartemen mereka yang terletak dikawasan Burjuman. Apartemen yang ditinggali mereka sebenarnya hanyalah sebuah gedung tua dengan cat abu pudar dan jauh tidak menarik dibandingkan dengan beberapa apartemen mewah disekitar pusat perbelanjaan Burjuman Mall yang terletak disekitarnya. Namun pemandangan luar yang ditawarkan dari Obaidullah Building ini sangat luar biasa. Gedung-gedung perkantoran yang mencakar-cakar langit, rel rel kereta api megah Dubai Metro dengan jalan-jalan khusus menuju gedung perkantoran tersebut, pilar-pilar yang berdiri tegak laksana gardu istana raja yang kokoh. Suasana gurun pasir masih berada di kanan kiri jalan, namun tidak mengubah pemandangan super metropolis yang selalu membuat kagum Jasmine dan membuatnya betah berlama-lama di depan Jendela.

“Kamu bisa membuka jendela dan menghirup udara seperti ini hanya sementara saja. Beberapa bulan lagi akan musim panas. Dan kamu tidak akan bisa bayangkan panas yang harus kamu tempuh nanti ketika berjalan diluar. Bahkan didalam ruangan pun, dengan AC yang sudah maksimum, kamu akan tetap merasa kepanasan,”kata Andre memecah kesunyian di kamar ini. Andre mencoba bangkit namun ternyata hanya mampu untuk menggeliat saja. Uah, pegalnya badan ini!

Jasmine berjalan mendekati tempat tidur dan menarik selimut Andre.

“Bisakah kau mengajakku keluar sebentar malam ini? Aku bisa mati kesepian karena kamu tidak pernah ada untukku dan aku tidak memiliki kegiatan apapun disini selain menunggumu pulang bekerja. Dan itu artinya 14 jam sudah kau membuatku mematung di depan jendela kamar ini,” Jasmine mengeluh sambil melipat selimut yang tengah menyelimuti Andre dengan nikmatnya. Kini Andre mulai bisa bergerak walau terpaksa.

“Maaf, Jasmine. Hanya itulah satu-satunya cara untuk membuat kita bisa bertahan di negara ini. Aku ingin kamu mengerti.”

“Aku bosan. Kesepian. Kau tidak menyisakan sedikit waktumu pun untukku. Terutama kehidupan kalongmu ini. Bekerja dari sore sampai hampir pagi, lalu tidur dari siang sampai sore. Terkadang aku berfikir bahwa aku sungguh tidak sanggup.”

Andre tertegun. Sebagai seorang mantan TV reporter yang hidup dengan segala dinamikanya, kehidupan Jasmine pasti akan jauh terasa berubah. Ini adalah keputusan kedua orang tua mereka untuk memaksa Jasmine berhenti berkarir dan menjadi seorang istri yang berkewajiban menemani suaminya yang tengah berjuang di salah satu negara Timur Tengah ini sebagai seorang resto manager hotel bintang lima. Setelah dua tahun pernikahan mereka dengan hidup terpisah, kedua keluarga tidak tahan lagi melihat hubungan Andre dan Jasmine yang dianggap tidak harmonis. Walau sesungguhnya bagi Andre maupun Jasmine, yang menjalankan kehidupan pernikahan ini, tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Mereka berdua sudah sangat terbiasa hidup dengan teman dan sahabat dan menikmati karir masing-masing.

“Ok, aku masih punya waktu dua jam sebelum masuk. Akan aku bawa kamu ke sebuah tempat yang pasti akan kamu sukai. Menurutku, perpaduan suasana kota tua Dubai dengan sisi modernnya akan membuatmu lebih betah disana. Tapi aku tidak bisa lama-lama menemanimu. Kalau kamu betah, kamu bisa tinggal sebentar dan pulang dengan menggunakan taxi. Kamu berani kan?.”

“Sejak kapan aku berani keluar sendirian?,” jawab Jasmine sambil merengut.

“Aku kan sudah bilang, Dubai itu aman. Kamu pasti suka.”

Jasmine hanya mengangkat bahu dan berkata,”Iya, kita lihat nanti saja.”

Setengah jam kemudian, Andre dan Jasmine keluar dari apartemen. Berbalut sweater tebal dan jaket, mereka berjalan melalui hall yang cukup panjang menuju lift. Pintu demi pintu apartemen mereka lewati. Suasana tampak begitu lengang sampai mereka berhenti di depan lift.

Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki berperawakan tegap keluar dari pintu lift. Dia tersenyum pada Andre dan Jasmine dengan ramah, mengucapkan ‘Hi, How are you?’ dengan aksen yang terdengar asing, lalu berlalu setelah dijawab baik oleh Andre.

“Namanya Shaad. Dia tinggal dilantai ini juga. Kamar paling pojok di dekat balkoni utama. Kalau ga salah dia itu Mauritian,” jelas Andre pada Jasmine ketika lift sudah melaju turun.

“Mauri… apa?”, tanya Jasmine tampak bingung.

“Mauritian. Aku juga baru tahu ada kebangsaan dengan nama itu. Sebuah pulau kecil di pesisir timur Afrika di Samudera Hindia. Namanya kepulauan Mauritius.”

“Oh.”

*

Andre melihat sorotan kagum di diri Jasmine atas pandangan megah yang ditawarkan sepanjang Sheikh Zayed Road. Bagaimana tidak, jalan besar ini dihiaskan gedung-gedung tinggi yang saling berlomba menggapai langit, dengan bentuk-bentuk yang bisa dibilang ‘tidak biasa’. Dari gedung dengan bentuk tinggi datar sampai yang bentuknya saling meliuk ada disini. Perpaduan gurun pasir di musim dingin dengan gedung megah berteknologi tinggi jelas merupakan nuansa baru bagi mata Jasmine. United Arab Emirates alias UAE sendiri merupakan sebuah federasi dari 7 emirates, Abu Dhabi sebagai ibukota dan juga kota terluas, lalu Ras Al-Khaimah, Fujairah, Sharjah, Ajman, Umm Al-Quwain dan Dubai. Masing-masing emirates memiliki karakteristik dan personaliti sendiri yang sanggup mengundang semua turis maupun pekerja manca negara datang ke negara ini.

Dubai sendiri adalah kota terbesar kedua di UAE yang terbagi dua oleh laut kecil yang bernama Dubai creek. Pelabuhan yang cukup bersih dan lokasi yang strategis membuat Dubai creek menjadi salah satu pusat bisnis dan perdagangan dunia. Disinilah Andre membawa Jasmine sekarang. Menyusuri sepanjang jalan yang tidak begitu lebar dengan toko-toko kain chiffon dan satin khas Dubai serta kafe-kafe mungil di kanan kirinya, namun padat manusia dari banyak negara. Jajanan yang ditawarkan juga macam-macam, dari mulai shawarma—sejenis roti berisi daging panggang khas arabic–, chinese atau philiphino food, sampai pisang goreng dengan masala, khas India. Untuk minumnya tersedia teh bercampur susu murni yang disebut cai, dan juga jus buah-buahan. Tapi Jasmine tampaknya tidak tertarik dengan jenis-jenis makanan yang ditawarkan disana. Dia malah sibuk melihat-lihat para pedagang india dan pakistan yang menjual kain-kain buatan tangan yang tersulam apik khas negara mereka sendiri. Teriakan-teriakan sang penjual dengan bahasa yang tidak dimengerti olehnya membuat Jasmine geli sendiri.

“Ini semacam pasar rakyat ya? Suasananya seperti lagi belanja di pasar kosambi Bandung,”serunya antusias.

Andre tersenyum. “Di Bandung mana ada pasar dengan bangunan seperti ini.”

Jasmine tertawa lepas. Toko-toko disini berbentuk kotak-kotak berwarna pasir coklat tanpa genteng-genteng seperti di Indonesia. Dinding dan ornamen-ornamen didalamnya bermotifkan khas kaligrafi arab yang tampak indah dipandang. Beberapa turis asing berkulit putih juga tampak terkagum-kagum dengan pesona yang ditawarkan disini. Jepretan kamera pun berbunyi disetiap sudut yang dinilai mereka unik untuk diambil.

“Foto aku dong!” Jasmine memberikan kamera ditangannya pada Andre.

“Disini?” tanya Andre sambil melihat sekeliling mereka yang hanya penuh dengan orang-orang berlalu lalang.

“Iya, tapi ambilnya dari jarak jauh ya. Aku ingin latar belakangnya justru orang-orang ini. Pasti keren!”teriaknya sambil berlari menjauh dari Andre. Andre melihat Jasmine berhenti beberapa meter didepannya dan membalikan tubuh kearahnya. Dengan gaya bak seorang model dan tatapan mata tajam lurus kearah Andre, dia memberikan isyarat untuk segera difoto.

Andre menatap Jasmine melalui layar mini kamera digitalnya, dan tertegun sesaat. Tuhan, dia cantik sekali!, gumamnya. Rambut Jasmine yang panjang sebahu tampak berkilau dibawah sinar matahari yang hampir tenggelam. Istrinya hanya memamerkan senyum seadanya, namun justru membuat sisi eksotis Jasmine keluar.

“Keren ga?”tanya Jasmine sambil merebut kamera ditangan Andre. Mereka berdua menatap gambar yang tertangkap di layar.

“Wow…”Andre mendesah pelan. Photo itu pasti akan mengundang kekaguman siapa saja yang melihatnya. Seorang wanita berwajah Asia dengan mata -yang entah kenapa tampak terlihat begitu terluka- berdiri ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang sangat berbeda dari dirinya. Para pedagang-pedagang india disamping kiri dan kanannya Jasmine, dua orang emirati cantik yang berpakaian abaya hitam dan melangkah anggun didepannya, kontras dengan pasangan turis asing yang hanya berpakaian santai T-shirt, celana pendek dan sneaker—tampak kebal dengan udara dingin—yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan rokok dijarinya. Bahkan cahaya matahari juga tertangkap di lensa kamera Andre. Warnanya terlihat berwarna hijau-kuning-ungu dan menambah pesona keseluruhan gambar photo tersebut.

“Aku terlihat kayak orang baru ditemukan di kutub utara dengan jaket dan sweater menenggelamkan seluruh tubuhku,”Jasmine malah tidak puas dengan hasil photonya sendiri.

“Tapi tetap cantik.”

“Ngeledek ya?”

“Nggak. Serius kok. Tapi kamu tampak seperti sedang sedih. Kamu ga suka ya dibawa kesini?”Andre bertanya hati-hati.

“Kok malah menganggap begitu? Ini wajah penuh kebahagiaan yang tidak pernah aku pamerkan di photo-photoku sejak datang ke Dubai!”

Walau aneh, penjelasan Jasmine membuat Andre lega. Dia memeluk istrinya. Rasanya aneh dan tidak nyaman. Sudah terlalu lama mereka tidak pernah berkencan, dan rasanya seperti memulai hubungan yang baru lagi dengan orang yang sama. Butuh waktu untuk bisa mendapatkan kembali momen kisah kasih mereka. Andre sendiri sangat menyadari, cintanya hanya untuk Jasmine. Tidak pernah ada lagi ada wanita lain semenjak mereka menikah. Namun ia tetap saja belum terbiasa dengan kehadiran Jasmine bersamanya. Andre tidak tahu harus bercerita atau membahas apa dengan istrinya itu saat mereka memiliki waktu yang sedikit untuk bercengkerama. Apapun yang dibahasnya dengan Jasmine, wanita itu tampak tidak mengerti, ataupun tidak mau mengerti. Laki-laki yang banyak menghabiskan waktunya menjelajahi dunia perhotelan internasional itu mengerti bahwa Jasmine bukan berasal dari dunianya. Namun ia sendiri toh mencoba mengerti dunia Jasmine dengan semua hal yang disukainya selama ini. Jasmine pun tahu, untuk kembali bekerja di dunia pertelevisian tidaklah mudah dilakukan di UAE. Dan Andre benar-benar tidak bisa membantunya untuk menerobos channel pertelevisian disini. Kecuali Jasmine mau belajar dari awal apapun kesempatan yang bisa diraih untuk bekerja, itu bisa dilakukan. Dan Andre pun sudah mencoba membicarakan hal itu pada Jasmine. Namun wanita itu tetap menolak. Ia hanya mau kembali ke TV. Lebih tepatnya pulang ke Jakarta.

Lelah dengan pemikirannya sendiri, Andre pun mulai mengajak Jasmine berjalan kembali. Kali ini menuju pelabuhan yang hanya berjarak beberapa ratus meter didepan mereka.

“Apa kita akan naik perahu?”tanya Jasmine antusias.

Andre mengiyakan.

Disepanjang pesisir Dubai Creek berlabuh perahu-perahu kayu motor yang sederhana yang disebut Abra. Abra itu digunakan sebagai sarana transportasi menuju bagian lain dari kota Dubai yang terbelah oleh Dubai Creek ini, Deira dan Bur Dubai. Supir dan kenek—istilah yang disebut di Indonesia—tampak sibuk berteriak-teriak berebutan penumpang yang hendak naik. Melalui jalur tangga masing-masing, para penumpang diarahkan kearah Abra mereka. Jalur laut ini dianggap lebih praktis, cepat dan murah dibandingkan melalui darat. Hanya dengan 1 dirham 50 fils, sekitar 3000 rupiah, mereka sudah bisa sampai keseberang. Jasmine meloncat-loncat gembira ketika menuruni tangga menuju Abra. Andre mengikutinya dari belakang. Mereka berdua kemudian menaiki Abra yang berada disebelah kanan mereka karena masih kosong penumpang. Perahu itu terombang-ambing sesaat membuat tubuh Jasmine dan Andre terguncang-guncang. Mereka pun saling berpegangan dan tertawa.

Perahu pun mulai bergerak menjauhi pelabuhan. Suara mesinnya cukup gaduh, tapi lambat laun menghilang terbias deru ombak dan angin. Jasmine begitu menikmati perjalanannya di atas Abra. Sesekali ia dan Andre bercakap-cakap tentang apa-apa saja yang mereka lihat dan menarik perhatian mereka. Kemudian tiba-tiba saja hujan rintik-rintik mulai turun. Semua orang yang berada di Abra menengadahkan kepalanya ke arah langit untuk memastikan bahwa hujan benar-benar turun. Hujan merupakan sesuatu hal yang jarang sekali terjadi di Dubai. Dan semua penumpang menyambutnya dengan suka cita. Terbukti dari obrolan mereka yang menjadikan gerimis sebagai topik pembicaraan mereka.

Kini Jasmine dan Andre terdiam, berkonsentrasi pada pikiran masing-masing. Menjelajahi imajinasi momen romantis pertama mereka yang tidak pernah terjadi sejak mereka bertemu kembali. Indah, namun terasa kosong.

Angin sungai membuai tubuh Jasmine sampai dititik ia merasa sangat tenang dan rileks. Tatapannya menjelajahi semua orang-orang diatas Abra ini dan terhenti pada seorang pria asing yang berdiri dengan angkuh di ujung Abra. Gerak gerik tubuh yang berusaha menjaga keseimbangan untuk berdiri diatas perahu yang tengah terombang-ambing ini, menarik mata Jasmine untuk terus melihatnya. Pakaian pria itu berbeda dengan para penumpang lainnya yang umumnya kasual. Kemeja terbuat dari flannel yang bagus, sedikit berantakan, dan mantelnya panjang selutut menutupi celana kain berwarna coklat gelap. Dilehernya pun dililit sebuah pashmina tebal khas Arab. Perawakannya tinggi dan tegap. Kulitnya berwarna terang kecoklatan. Lalu, pria itu pun berpaling pada Jasmine, membuat sensasi paling menggetarkan perasaan Jasmine yang belum pernah dirasakannya selama ini! Dan… Dubai Creek pun berhenti beriak sesaat. Baik Jasmine dan pria itu terhipnotis akan keberadaan mereka didalam satu abra yang sama ini. Bagai magnetik yang kuat, mata Jasmine dipaksa menelusuri ikal-ikal rambut yang jatuh dengan indah dikening dan pinggiran telinga sang pria. Kedua alis yang lebat dan sedikit menyatu ditengah tengah pangkal hidung yang begitu terbentuk sempurna, menggelitik hati Jasmine, dan bentuk bibir itu begitu sempurna. Jasmine tidak berani lagi untuk kembali kepada bola mata yang telah berhasil membakar rasa penasarannya akan pria itu. Ia berteriak kecil ketika seseorang menyentuh pergelangan tangannya dengan lembut.

“Hampir jam 6 sore, Jasmine. Aku harus kembali kerja.”

“Ah…” Jasmine terperangah. Merasa jengah akan sentuhan lembut Andre ditangannya. Seperti takut kalau si pria tadi memergoki Andre sedang bersamanya saat ini. “Aku masih betah…”

“Tidak apa-apa. Aku kan sudah bilang, kau boleh sepuasnya tinggal disini. Hati-hati ya.”

Jasmine mengangguk pasti, membuat Andre tersenyum walau sedikit bingung darimana keberanian Jasmine untuk tinggal lebih lama di tempat ini. Mungkin Jasmine memang sangat menyukai tempat ini. Dan Andre merasa senang kalau Jasmine bisa sedikit melupakan kebosanannya selama tinggal bersamanya di Dubai.

“Selamat bersenang-senang.” Andre hanya meremas jari-jari kanan Jasmine tanda ia akan meninggalkan istrinya itu, tepat ketika Abra sudah menepi dan menurunkan para penumpangnya di dermaga.

Setelah bayangan Andre menghilang, seorang pria yang tak lagi asing dimatanya pun perlahan mendekati Jasmine dari sudut jalan yang lain. Hati Jasmine terasa gugup dan bergetar saat ia semakin mendekat. Tubuhnya terlihat sangat mungil setelah sang pria itu berdiri tegak di depannya. Langit sudah mulai gelap namun cahaya cahaya lampu sekitar dermaga memantulkan bentuk-bentuk wajah pria itu yang jauh lebih menawan dibandingkan sebelumnya, ditambah dengan kesempurnaan fisik yang nyata.

Tangannya terangkat kearah Jasmine, dan ia tersenyum. Senyuman yang membuat Jasmine kehilangan pijakannya dan merasa harus menggapai genggaman tangan pria tersebut agar tidak terjatuh. Mereka pun berjabatan tangan dengan erat.

Hi, I’m Casyas. ”

“I am… Jasmine.”

To be continued…